Senja Siang Hari

Siang itu hujan turun dengan derasnya, namun tetap tak mampu sembunyikan bising raung tangis Ibu, menjerit dengan mengucap Istighfar berkali-kali. Luap marah Ayah dengan mata menyala merah serta lontaran kata-kata kasar. Saudara-saudara yang kuwalahan menenangkan mereka berdua. Serta hiruk pikuk tetangga yang sibuk mempersiapkan upacara pemakaman. Mungkin siang itu hanya aku yang tak tau harus berbuat apa, berdiri kaku di bawah derasnya hujan, tak merasa kedinginan meski sudah... ah entahlah aku tak ingat sudah berapa lama berdiri disana. Mungkin hanya aku yang tak tau harus berbuat apa, masih mencoba memahami semuanya, memahami kejadian yang kupastikan aku, Ayah, dan Ibu hancur setelahnya. Mungkin hanya aku yang tak tau harus berbuat apa, menangis tak bisa, marah pun tak bisa. Mungkin memang benar-benar hanya aku yang tak tau harus berbuat apa, tak bisa menenangkan Ibu dan Ayah meski sesungguhnya aku sendiri butuh ditenangkan, karena jauh di dalam diriku, aku juga hancur berantakan.

 Beberapa saat kemudian terdengar orang-orang berbisik “eh, jenazahnya sudah datang, ayo siapkan”, lalu seketika kulihat Ibu pingsan dalam pelukan Ayah. Aku tetap bergeming di tempatku, namun kurasakan seluruh tubuhku bergetar, menahan gejolak rasa yang... sangat sulit kujelaskan, sebelum akhirnya tubuhku roboh dan kurasakan dibopong seseorang ke dalam rumah yang aku lupa siapa dia. Di luar hujan sudah reda, namun langit masih tertutup mendung pekat, seakan ikut sampaikan duka cita. Di sampingku Ibu tetap meronta di tempat tidur, mengucap Istighfar, menyebut nama-Nya dan terus-terusan memohon pengampunan. Sedang Ayah sudah tak lagi marah, terus berusaha menenangkan Ibu dan sekilas kulihat airmata yang dengan setengah mati ia tahan. Ah aku tak tahan berada disini, aku keluar.

Di luar tampak beberapa Ibu-ibu tetangga merangkai bunga, aku berjalan ke ruang tamu, separuh ruangan dibatasi kain putih, kuintip sedikit yang ada dibaliknya, perlahan, sangat-sangat perlahan, dengan tangan gemetar. Disana terbaring kaku Adikku, di dalam keranda, dengan wajah pucat pasi dan senyum menyiratkan kedamaian. Adikku, yang beberapa menit lalu baru saja pulang sekolah, makan telor ceplok kesukaannya, lalu pamitan bermain dengan teman-temannya. Adikku, yang 10 menit setelahnya temannya datang dan mengabarkan bahwa adikku tenggelam di sungai. Adikku, yang ketika aku sampai di sungai, tubuhnya sudah kaku membiru. Adikku, yang dibawa ke UGD dalam pangkuan Ibu, dan tidak beberapa lama kemudian dikabarkan meninggal. Adikku, yang tidak pernah alpa menggangguku. Adikku, yang diam-diam membanggakanku di depan teman-temannya. Adikku, yang duduk di kelas 2 SMP dan sedang jatuh cinta katanya. Adikku yang sedari kecil cita-citanya menjadi tentara. Adikku, yang berjanji membawa kami sekeluarga ke tanah suci nantinya. Adikku, yang berkali-kali diingatkan untuk tidak bermain di sungai, tetapi tetap dilanggar, hah! namanya juga anak-anak. Adikku, yang menjadi kebanggaan Ibu. Adikku, yang selalu diandalkan Ayah. Adikku, yang menjadi harapan keluarga. Adikku, yang kuharapkan dapat melindungiku nantinya. Adikku, yang saat kelahirannya membuatku bersuka cita. Adikku, yang aku sayangi dan menyayangiku. Adikku, ia satu-satunya adikku.

Sungguh tak menyangka ia pergi secepat itu, rasanya belum puas memandangnya selama 13 tahun. Rasanya belum puas bertengkar dengannya. Rasanya belum puas memberinya kasih sayang berlebih. Rasanya belum puas kami merawatnya. Rasanya belum puas melihatnya tumbuh. Rasanya belum puas mendengar celotehnya. Rasanya ingin kumaki teman-teman adikku yang mengajaknya ke sungai. Rasanya ingin kumaki Tuhan yang begitu cepatnya mengambil adikku kembali. Rasanya ingin kumaki diriku sendiri yang tak becus merawat adikku selama ini, yang tak becus menjaganya, yang terlalu malu ungkapkan sayang. Rasanya.... Oh rasanya aku mau gila!!!

Tak terasa ku kepalkan tanganku rapat-rapat, kugigit bibirku erat-erat, tetap tak ingin meneteskan airmata. Lalu Ayah menghampiriku, katanya adikku akan segera dimakamkan. Orang-orang di luar segera menyiapkan menutup keranda dengan kain hijau dan bunga-bunga disampirnya. Keranda dibawa keluar, diangkat tinggi, kemudian sesuai tradisi, aku, Ayah, dan Ibu melewati di bawah keranda, menyebrang sebanyak tiga kali. Saat itu Ibu tak kuasa menahan tangisnya. Ayah dengan sisa kekuatannya tetap menahan Ibu agar tak tersungkur ke tanah. Aku, aku tetap tetap mencoba berdiri dengan sisa ketegaranku, menggertakkan gigi sekuat tenaga agar tak meneteskan airmata. Lalu adikku pergi dihantarkan banyak orang dengan seruan “LAILLAHAILLALLAH........” “LAILLAHAILLALLAH....” “LAILLAHAILLALLAH...........” “LAILLAHAILLALLAH...........” “LAILLAHAILLALLAH....” “LAILLAHAILLALLAH” “LAILLAHAILLALLAH” “LAILLAHAILLALLAH” “Laillahaillallah....” “laillahaillallah......” “laillahaillallah....” semakin lama semakin sayup-sayup terdengar, semakin lirih, dan yang tertinggal dalam telinga, pikiran, hati, dan mulutku ialah seruan “Allah......” “Allah....” “Allah..” “Allah.” “Allah”, hingga aku roboh tak sadarkan diri.

 Dalam tidurku aku bertemu dengan adikku, senang sekali rasanya melihatnya putih bersih bersinar, penuh tawa. Dalam tidurku banyak pesan yang ia sampaikan

“Mbak jaga Ibu ya”

“Mbak, sekolah yang bener ya”

“Mbak jangan bersedih, kematian itu hal yang pasti, sedekat nadi, tak bisa dihindari, terima mbak, ikhlaskan”.

Ah, aku jadi ingin bertanya pada daun dalam puisi Sapardi, bagaiman daun bisa setabah itu merelakan dirinya gugur tanpa membenci siapapun...


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sepertiga Malam

Surat Rindu dari Sepucuk Daun Kering