Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2021

Senja Siang Hari

Siang itu hujan turun dengan derasnya, namun tetap tak mampu sembunyikan bising raung tangis Ibu, menjerit dengan mengucap Istighfar berkali-kali. Luap marah Ayah dengan mata menyala merah serta lontaran kata-kata kasar. Saudara-saudara yang kuwalahan menenangkan mereka berdua. Serta hiruk pikuk tetangga yang sibuk mempersiapkan upacara pemakaman. Mungkin siang itu hanya aku yang tak tau harus berbuat apa, berdiri kaku di bawah derasnya hujan, tak merasa kedinginan meski sudah... ah entahlah aku tak ingat sudah berapa lama berdiri disana. Mungkin hanya aku yang tak tau harus berbuat apa, masih mencoba memahami semuanya, memahami kejadian yang kupastikan aku, Ayah, dan Ibu hancur setelahnya. Mungkin hanya aku yang tak tau harus berbuat apa, menangis tak bisa, marah pun tak bisa. Mungkin memang benar-benar hanya aku yang tak tau harus berbuat apa, tak bisa menenangkan Ibu dan Ayah meski sesungguhnya aku sendiri butuh ditenangkan, karena jauh di dalam diriku, aku juga hancur berantakan. ...

Ma

Ma, doa'aku kau baik-baik saja Tersenyum hangat dalam dekap ayah Ma, do'aku kau sehat selalu Jangan menangis memandang fotoku dan menahan rindu Ma, jangan lupa menutup jendela saat malam tiba Agar angin malam tak mengusik tidur lelapmu Ma, kata orang aku harus selalu menyebutmu dalam do'a Tapi ma, bukankan do'a terbatas pada bahasa? Maka aku memutuskan mengubahnya menjadi nafasku Setiap yang kuhirup adalah do'aku Setiap nafasku adalah dirimu

Surat Rindu dari Sepucuk Daun Kering

 Untuk adikku: Habil Mayco Katanya, ia melihatmu berjalan jauh Meninggalkan beberapa potong hati yang tak lagi pada tempatnya Mengosongkan jiwa Melompongkan raga Katanya, ia melihatmu terbang bersama sosok tak dikenal Membuat kami nyeri, ngilu, sendu Katanya, kamu benar-benar pulang Bukan ke rumah kami yang reot Tapi ke persinggahan terakhir Istana! Katanya Lalu kubalas sepucuk surat rindu dari kering "Sampaikan pada adikku, aku, Ayah, Ibu juga rindu"

Kabut

Malam yang gigil dan dedahanan telanjang Kau yang dingin dengan mendengung merusak gendang Lalu, gerimis tak mampu bersembunyi pada paras cekung Malam yang gigil dan dedahanan telanjang Ia gemetar menahan sembilu Kau mengulum senyum yang tak enyah dari ponselmu! Malam yang gigil dan dedahanan telanjang Kau masih mengira ia bersama malam Hingga pagi datang dan malam perlahan hilang Ia tak lagi di sana, sayang....

Sepertiga Malam

Ia ingin sekali mengadu pada Tuhannya Tentang angin berhembus semilir Deru desah dingin gelisah Tentang air mengembara sungai dan laut Dan ia lah batu, biar di situ, menunggu Tentang air mata mengering di dermaga; sajadah basah pada sepertiga malam resah Tapi ia takut tak temukan titik Tak temukan kata penghabis Karena ia tahu do'a terbatas pada bahasa Maka ia merubahnya menjadi nafas Tak terbatas hingga ia tuntas!