Senja Siang Hari
Siang itu hujan turun dengan derasnya, namun tetap tak mampu sembunyikan bising raung tangis Ibu, menjerit dengan mengucap Istighfar berkali-kali. Luap marah Ayah dengan mata menyala merah serta lontaran kata-kata kasar. Saudara-saudara yang kuwalahan menenangkan mereka berdua. Serta hiruk pikuk tetangga yang sibuk mempersiapkan upacara pemakaman. Mungkin siang itu hanya aku yang tak tau harus berbuat apa, berdiri kaku di bawah derasnya hujan, tak merasa kedinginan meski sudah... ah entahlah aku tak ingat sudah berapa lama berdiri disana. Mungkin hanya aku yang tak tau harus berbuat apa, masih mencoba memahami semuanya, memahami kejadian yang kupastikan aku, Ayah, dan Ibu hancur setelahnya. Mungkin hanya aku yang tak tau harus berbuat apa, menangis tak bisa, marah pun tak bisa. Mungkin memang benar-benar hanya aku yang tak tau harus berbuat apa, tak bisa menenangkan Ibu dan Ayah meski sesungguhnya aku sendiri butuh ditenangkan, karena jauh di dalam diriku, aku juga hancur berantakan. ...